Powered By Blogger

Selasa, 17 Maret 2015

Cincin Berlafal Allah Ditemukan di Situs Arkeologi Bangsa Viking

Cincin berlafaz Allah dengan aksara Arab ini ditemukan di situs arkeologi bangsa Viking.© The Swedish History Museum Cincin berlafaz Allah dengan aksara Arab ini ditemukan di situs arkeologi bangsa Viking.
TRIBUNNEWS.COM, STOCKHOLM - Sebuah temuan artefak menunjukkan indikasi masyarakat Viking telah berinteraksi dengan peradaban Islam. Artefak tersebut berupa sebuah cincin perak bermata ungu, berlafal Allah dalam aksara Arab.
Dilansir Daily Mail dari Science News, Senin (16/3/2015), cincin tersebut ditemukan di makam perempuan dari abad 9 di Swedia, kampung halaman bangsa Viking kuno. Lokasi penemuan berlangsung di Birka yang menjadi pusat perdagangan Viking.
Semula mata cincin itu diduga sebuah batu ametis berwarna ungu, tetapi kemudian dipastikan kaca berwarna, sebuah bahan eksotis pada masanya.
Untuk memastikan bahan mata cincin itu, peneliti di Universitas Stockholm menggunakan mikroskop laser. Mikroskop itu juga bisa mengungkap secara detail tulisan Arab yang berbunyi 'untuk Allah' itu.
"Satu-satunya cincin tulisan Arab yang ditemukan di situs arkeologis Skandinavia ini merupakan benda unik Swedia dari era Viking," demikian laporan Science News.
Sudah jamak diketahui bahwa penduduk Skandinavia memperdagangkan benda-benda kaca dari Mesir dan Mesopotamia sekitar 3.400 tahun lalu.
Dengan begitu, sangat mungkin bangsa Viking membawa benda-benda kaca dari kawasan itu, bukannya menunggu secara alami para pedagang membawanya ke wilayah Viking lewat jaringan perdagangan.
Naskah kuno menyebut adanya hubungan perdagangan antara Viking dan peradaban Islam yang membentang dari Mediterania hingga Asia Barat. Sayangnya, bukti-bukti arkeologis yang menguatkan hal itu sangat jarang ditemukan.


Sabtu, 14 Maret 2015

NASA Temukan Lautan di Bulan Terbesar di Tata Surya

VIVA.co.id - Para ilmuwan di Badan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space Administration/NASA) menemukan lautan di satelit alami atau bulan dari Planet Yupiter, Ganymede. Seperti diketahui, Ganymede tercatat sebagai satelit alami terrbesar di tata surya.
Joachim Saur, ilmuwan dari University of Cologne, Jerman, yang memimpin tim dari NASA, mengatakan kemungkinan itu didapat setelah timnya, dengan menggunakan teleskop Hubble, mengamati penampakan aurora di bulan Ganymede.

"Saya selalu berpikir tentang bagaimana caranya kita bisa menggunakan teleskop untuk mengetahui apa yang berada di permukaan sebuah planet atau bulan. Kemudian saya berpikir, kenapa kita tidak mengamati aurora," ujar Joachim seperti dilansir dariRussia Today, Jumat, 13 Maret 2015.

Mneurutnya, aurora dikendalikan oleh medan magnet atau bulan. Bila diamati dengan cara yang benar, maka bisa mengetahui apa yang berada di dalam permukaan planet atau bulan itu. 

Joachim mengatakan, berdasarkan rekaman pergerakan aurora selama tujuh jam yang didapat menggunakan teleskop Hubble, timnya menemukan bahwa pergerakan aurora di atmosfer planet itu hanya terbatas pada sudut dua derajat. Sedangkan planet atau bulan yang tidak memiliki lautan, kata dia, pergerakan auroranya biasanya mencapai enam derajat.

"Pergerakan aurora yang lebih sedikit dan stabil, bisa mengindikasikan keberadaan samudera dengan air asin," ujar dia.

Temuan ini semakin memperkuat teori yang telah ada sejak tahun 1970-an, yang menyebutkan bahwa 60 mil atau sekitar 96 kilometer di bawah permukaan Ganymede, ada sebuah samudera dengan jumlah air yang lebih besar dibanding seluruh air yang berada di Planet Bumi.

Temuan ini sendiri penting karena keberadaan air di sebuah bulan atau planet berarti bahwa bulan atau planet tersebut bisa ditinggali oleh sebuah kehidupan atau memang malah sudah dihuni oleh suatu jenis kehidupan tertentu.


Jumat, 13 Maret 2015

2040 Dunia Bebas Dari Tembakau?

Disediakan oleh Republika_New Komunitas pengendalian tembakau yang tergabung dalam Soke Free Agents (SFA), mendeklarasikan pentingnya Presiden Joko Widodo untuk meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Bundaran HI, Jakarta, Ahad (15/2). (foto: MgROL_34)
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Dunia yang hampir bebas tembakau dan penyakit yang diakibatkannya diharapkan terwujud dalam waktu 30 tahun bila pemerintah-pemerintah menunjukkan keinginan politik dan aksi yang kuat terhadap perusahaan rokok, kata pakar kesehatan.
Reuters memberitakan kelompok kesehatan masyarakat dan spesialis kebijakan internasional menulis pada jurnal kedokteran The Lancet bahwa penjualan tembakau seharusnya dihapus pada 2040 dan menyerukan upaya internasional menentang penggunaannya.
"Dunia di mana tembakau jauh dari penglihatan, pikiran dan kebiasaan - tapi belum dilarang- bisa tercapai kurang dari 30 tahun," kata peneliti Universitas Auckland Robert Beaglehole.
"Tapi, hanya dengan komitmen penuh dari pemerintah, lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia serta masyarakat," tambahnya.
Miliaran orang diperkirakan akan meninggal dunia abad ini karena rokok dan bentuk tembakau lainnya bila pengendalian tidak ditingkatkan. Lebih dari 80 persen kematian itu akan ada di negara miskin dan menengah.
Dunia bebas tembakau adalah kurang dari 5 persen orang dewasa menggunakannya.
"Waktunya sudah tiba bahwa dunia tahu kerusakan yang tidak dapat diterima oleh industri tembakau dan bekerja menuju dunia yang pada dasarnya bebas dari penjualan produk tembakau," kata dia.
WHO mengungkapkan, tembakau membunuh sekitar 6 juta orang di seluruh dunia per tahun. Selain kanker paru, rokok juga menyebabkan penyakit lainnya, selain penyebab kematian dini seperti penyakit jantung, stroke dan tekanan darah tinggi.


Kamis, 12 Maret 2015

Meskipun Minum Air Putih Penting, Dalam Kondisi Ini Justru Harus Dibatasi

Jakarta, Minum air putih merupakan salah satu cara yang perlu dilakukan untuk menjaga keseimbangan kadar air dalam tubuh dan menjaga kesehatan ginjal. Namun jangan salah, ada beberapa kondisi yang membuat seseorang malah sebaiknya membatasi minum air putih.

Beberapa kondisi tersebut di antaranya untuk para lansia, mereka yang melakukan olahraga berat dan pasien dengan kondisi gangguan ginjal. Demikian disampaikan oleh Guru Besar Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Parlindungan Siregar, SpPD-KGH.

Menurut Prof Parlindungan, dalam sehari lansia dengan usia di atas 65 tahun minimal minum air putih 1 liter dan maksimal 1,5 liter. Jika minum berlebihan dalam waktu dekat, risikonya adalah hiponatremia alias natrium berkurang drastis. Efeknya tubuh menjadi lemas, bahkan bisa mengalami kejang-kejang dan penurunan kesadaran.

Baca juga: Mau Tahu Tubuh Kurang Minum atau Tidak? Cek Saja Warna Urine

"Orang usia lanjut yang mudah patah tulang itu natriumnya rendah, mungkin karena minumnya terlalu banyak juga," terang Prof Parlindungan, dalam konferensi pers peringatan Hari Ginjal Sedunia 2015 di Hotel JW Marriott Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Sementara untuk olahragawan berat, misalnya pelari ultra-maraton yang harus menempuh jarak lari hingga berpuluh-puluh kilometer, asupan cairannya juga justru dianjurkan secukupnya dan jika haus saja. Mereka tak dianjurkan minum terlalu banyak.

"Ada istilah exercise associated hyponatremia akibat ada kelebihan air. Minum 6 liter sekaligus misalnya, itu bisa bikin natriumnya turun. Makin jauh finish-nya, makin tinggi natriumnya turun. Bisa-bisa sampai di garis finish langsung pingsan. Minumnya kurang dari 1,5 liter air per jam saja," jelas konsultan ginjal dan hipertensi dari RSCM Jakarta tersebut.

Orang-orang dengan gangguan pada ginjal juga sebaiknya membatasi konsumsi air sesuai anjuran dokter. Jika berlebihan, kerja ginjal justru menjadi berat. Jika ginjal normal namun terlalu banyak minum, misalnya sekaligus sampai 5 liter, maka natrium dan kesadarannya bisa turun, bahkan juga bisa kejang.


Rabu, 11 Maret 2015

Bangun Observatorium Nasional, Pengamatan Asteroid di Indonesia Akan Berkembang

BANDUNG, KOMPAS.com - Teknologi yang digunakan Observatorium Nasional memang belum mampu menyaingi observatorium di Amerika Serikat, Eropa, atau Jepang. Namun, observatorium yang akan didirikan di Nusa Tenggara Timur ini akan setara dengan Thailand.
"Observatorium Nasional salah satunya menggunakan teknologi teleskop optik berdiameter 3 meter serta teleskop radio berdiameter 20 meter," ujar Kepala Observatorium Bosscha, Mahasena Putra di ruang kerjanya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (11/3/2015).
Dengan teknologi tersebut, Observatorium Nasional bisa meneliti eksoplanet (planet di bintang lain/planet yang berada di luar tata surya) serta bintang-bintang variabel. Bahkan teknologi ini bisa digunakan untuk mengamati asteroid.
"Seperti asteroid yang jatuh di Soviet kemarin. Dengan alat ini kita bisa mengamati asteroid-asteroid atau patroli. Sehingga ketika asteroid akan menabrak bumi kita sudah mengetahuinya," ucapnya.
Mahasena menjelaskan, di Asia Tenggara hingga kini belum ada satu pun negara yang mengamati asteroid. Jika Observatorium Nasional mengamatinya, maka secara tidak langsung Indonesia akan menyumbang hasil patroli asteroid di dunia.
Sebenarnya, Thailand dengan teknologi yang dimiliki sekarang bisa mengamati asteroid. Hanya saja, Thailand memiliki keterbatasan peneliti. Saat ini, peneliti astronomi profesional di Thailand hanya sekitar 10-15 orang, sedangkan Indonesia memiliki sekitar 30 orang.
"Kalau dari jumlah peneliti profesional, Indonesia lebih banyak. Namun hal itu wajar karena Indonesia memiliki sejarah panjang di bidang astronomi, yakni sejak Observatorium Bosscha berdiri tahun 1923," tuturnya.
Ketika ditanya peran astronomi untuk kehidupan manusia, Mahasena mengungkapkan, pada intinya astronomi bermanfaat untuk ilmu pengetahuan. Namun bagi masyarakat muslim, astronomi bisa digunakan untuk penentuan hilal.
"Hilal itu bagian kecil dari astronomi. Sebenarnya peran astronomi lebih ke menjawab keingintahuan, karena keingintahuan ini jawabannya mahal harganya," ucapnya.
Berita sebelumnya, Observatorium Nasional akan didirikan di Desa Fatumonas Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Observatorium itu akan dibangun di Bukit Timau setinggi 1300 mdpl. (Baca: Observatorium Nasional Berkonsep "Remote and Robotic Telescope")


Dampak dari Kekurangan dan Kelebihan Air pada Tubuh

KOMPAS.com - Air merupakan bagian penting dalam tubuh manusia. Dalam tubuh, air berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh, pelarut, bantalan sendi, dan membawa zat penting ke seluruh tubuh.
Konsumsi air pun tak boleh kekurangan maupun kelebihan karena dapat menganggu kesehatan. Berikut akibatnya jika kekurangan maupun kelebihan air, seperti dipaparkan dokter spesialis penyakit dalam-konsultan ginjal dan hipertensi, Parlindungan Siregar.

Kekurangan air
Volume cairan tubuh manusia bervariasi tergantung usia dan jenis kelamin. Kekurangan cairan dalam tubuh biasa dikenal dengan dehidrasi.
"Volume asupan air yang cukup penting bagi kelangsungan hidup normal individu," kata Parlindungan.
Parlin menjelaskan, kekurangan cairan tubuh 1 persen dari berat badan, dapat menimbulkan gangguan kognitif. Kekurangan cairan sebanyak 2 persen atau lebih, dapat membuat Anda merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami gangguan visual.
Kekurangan yang cukup berat, yaitu di atas 10 persen dari berat badan. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah menurun dan gangguan ginjal akut.

Kelebihan air
Asupan air tidak boleh berlebihan karena dalam keadaan normal, ginjal yang sehat hanya mampu mengeluarkan 400-600 ml air per jam.
Berlebihan minum air justru bisa menyebabkan hiponatremia atau kekurangan natrium dalam darah. Akibatnya, kesadaran bisa menurun dan tubuh terasa lemas.
Bahaya kelebihan air juga bisa terjadi pada seseorang yang melakukan olahraga berat. Menurut Parlin, kondisi ini pun bisa menyebabkan kematian. Orang yang melakukan olahraga berat juga disarankan tidak minum berlebihan saat olahraga. "Jadi kalau haus minum. Minumlah air seperlunya," imbuh Parlindungan.

Konsumsi air putih yang berlebihan saat olahraga, khususnya olahraga berat ternyata membahayakan bagi tubuh. Kelebihan minum dapat menyebabkan hiponatremia akut atau kekurangan natrium yang bisa berujung pada kematian.

"Dia jadi kekurangan natrium, otaknya bengkak. Jadi berbahaya kalau minum air berlebihan," ujar Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Parlindungan Siregar di Balai Sidang UI, Depok, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2015).
Menurut Parlindungan, kelebihan minum air saat olahraga berat dapat membuat seseorang tiba-tiba menjadi kejang-kejang, kesadaran menurun akibat terjadinya edema sel otak. 

Parlindungan mengungkapkan, Hew-Butler dan kawan-kawan pernah melakukan penelitian ini terhadap 82 pelari ultramaraton.

Parlindungan menjelaskan, kemampuan ginjal mengeluarkan air dalam waktu 1 jam, yaitu hanya 400-600 mL. Untuk itu, asupan air tidak disarankan melebihi kemampuan ginjal.
"Jadi kalau haus minum. Minumlah air seperlunya atau istilahnya ad libitum," kata Parlindungan.

Terlalu banyak minum air yang menyebabkan hiponatremia bisa menimbulkan gejala mual, ngantuk, gangguan melangkah seperti tersangdung, dan mudah lupa.

Parlindungan menyarankan agar seseorang minum air secukupnya per hari. Sebab, kekurangan air pun tidak baik yaitu dapat menyebabkan dehidrasi.

Tanda seseorang telah cukup minum air putih yaitu ketika warna urin putih jernih. Sedangkan, warna urin kuning pekat pertanda kurang minum air putih.


Jumat, 06 Maret 2015

Penggunaan Parasetamol dalam Jangka Panjang, Adakah Efek Sampingnya?

Jakarta, Parasetamol ditengarai sebagai penghilang rasa nyeri paling populer di seluruh dunia. Namun adakah efek samping penggunaan parasetamol dalam jangka panjang? Untuk menjawab pertanyaan itu, Leeds Institute of Rheumatic and Musculoskeletal Medicine, Inggris, pun menggelar studi. Seperti apa hasilnya?

Studi yang dipimpin oleh Philip Conaghan tersebut menganalisa data dari delapan studi tentang penggunaan parasetamol dalam jangka panjang yang telah dipublikasikan. Dua dari delapan studi menemukan adanya peningkatan kematian hingga 63 persen pada yang mengonsumsi parasetamol dalam jangka panjang, dibandingkan yang tidak mendapat resep obat tersebut.

Empat studi lainnya menemukan adanya risiko tinggi masalah kardiovaskular, yakni dengan rentang 19-68 persen. Ada pula risiko perdarahan gastro-intestinal dan efek samping intestinal lainnya, dengan angka 49 persen. Sementara tiga studi lainnya menemukan adanya efek buruk pada ginjal.

Baca juga:
 Kisah Konyol Para Pecandu, Kibuli Dokter Hanya untuk 'Mabuk' Parasetamol

Dalam kasus-kasus yang ditemukan, risiko yang didapat tergantung pada dosis. Jadi semakin tinggi dosis yang digunakan, maka semakin besar risikonya. Demikian analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases, dan dikutip dari AFP, Sabtu (7/3/2015).

Para analis lantas memperingatkan dokter agar lebih berhati-hati ketika meresepkan obat, tak terkecuali parasetamol. Meskipun memang risiko secara absolutnya bisa dikatakan kecil.

Namun ahli lain tidak sepakat dengan temuan ini. Menurut mereka, analisis yang dilakukan tidak bisa menjelaskan apakah masalah kematian dan problem kesehatan yang dialami seseorang itu memang karena penyakit yang mendasari atau karena dipicu oleh penggunaan parasetamol itu.

Nick Bateman, seorang profesor toksikologi klinis di University of Edinburgh di Skotlandia, menyebut sejauh ini parasetamol masih tetap analgesik paling aman yang tersedia. Akan tetapi yang disarankan adalah penggunaan parasetamol dengan dosis rendah dan digunakan dalam jangka pendek saja.

"Itu merupakan saran umum untuk semua obat-obatan," ucap Bateman.

Baca juga: 
Diberikan Sembarangan, Parasetamol Bisa Timbulkan Gangguan Hati pada Anak

Sementara Seif Shaheen, seorang profesor epidemiologi pernapasan di Queen Mary University di London, berkomentar dengan berbagai keterbatasan, maka studi tersebut tidak bisa memperkuat bukti adanya efek berbahaya dari penggunaan parasetamol.

"Penelitian lebih lanjut untuk mencari kemungkinan adanya efek merugikan dari obat yang sering digunakan ini akan lebih bijaksana," sarannya.